Dewasa ini pelanggaran lalu lintas semakin sering kita
temui. Mulai dari menerobos traffic light hingga melawan arus lalu lintas.
Pelakunya mulai dari anak-anak hingga lansia, berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku melanggar lalu lintas tidak lagi
distereotipe-kan pada figur tertentu. Setiap generasi dapat melakukan perilaku
pelanggaran lalu lintas.
Hal yang menonjol tentang perilaku pelanggaran lalu lintas
adalah perilaku ini dilakukan oleh orang-orang demi kepentingan ataupun
keuntungan pribadi. Sedangkan dampak negatifnya biasanya dirasakan oleh orang
lain misalnya ditabrak meskipun sudah pada jalur yang tepat, mendapatkan makian
dari orang yang melanggar, dan terkejut karena mendadak terdapat kendaraan yang
tidak pada jalurnya. Namun, apakah ada kepeduliaan ataupun perspective role
takingyang dilakukan pelaku? Perspective role takingmempersoalkan
bagaimana kita mencoba memahami pola berpikir atau perilaku yang dilakukan
orang lain. Biasanya yang melakukan perspective role takingpositif
adalah orang lain yang dirugikan dengan mengatakan “ wajar orang tersebut
melakukan pelanggaran lalu lintas karena ada kepentingan yang mendesak”. Sangat
sulit ditemukan pelaku pelanggaran memiliki perspective role takingyang
baik, bahkan tidak memperdulikan orang lain, yang penting dirinya mendapatkan
keuntungan dengan cara melanggar lalu lintas, misalnya tidak terlambat di
kantor, tidak terlalu lama menunggu lampu hijau, tidak perlu memutar jauh, dan
sebagainya.
Terdapat banyak faktor penyebab perilaku pelanggaran lalu
lintas, namun dalam tulisan ini hanya akan membahas tentang peran orangtua
sebagai salah satu penyebab perilaku pelanggaran lalu lintas. Seperti diulas di
awal, bahwa perilaku pelanggaran lalu lintas dilakukan oleh anak-anak dan
orangtua bahkan lansia. Mengapa anak-anak juga dapat melakukan pelanggaran lalu
lintas misalnya ketika naik sepeda berjajar, menerobos lalu lintas, dan melawan
arus. Jawabannya secara praktis bahwa peraturan lalu lintas dibuat untuk
kendaraan bermotor. Karena sepeda tidak memiliki mesin atau bermotor, maka
sepeda dapat melakukan pelanggaran lalu lintas bahkan dapat dikatakan tidak
melanggar. Jawaban ini didapatkan karena orangtua mengajarkan tidak apa-apa
melawan arus, menerobos lalu lintas, bersepeda berjajar, asal jangan sampai
tertabrak kendaraan lain.
Sehingga kalau ada anak-anak bersepeda melawan arus,
menerobos lalu lintas, bersepeda bersejajar dan terjadi kecelakaan, pasti
asusmi dan fakta yang dimunculkan adalah mereka ditabrak dan tidak mungkin
anak tersebut yang salah. Biasanya akan terjadi penghakiman massa pada
orang lain yang mengalami kecelakaan yang melibatkan anak-anak pelanggar lalu
lintas tadi. Bahkan tertuduh pelaku pelanggaran adalah orang lain. Hal ini
sudah menjadi semacam fakta yang diyakini orang-orang, bahkan apabila di
kampung-kampung jelas terlihat ada peringatan hati-hati banyak anak kecil.
Model yang seperti ini tujuannya baik agar kendaraan bermotor di
kampung-kampung tidak melaju dengan kecepatan tinggi atau seenaknya. Namun,
apakah terdapat pendidikan kepada anak-anak bahwa bila mereka sedang bermain di
jalanan kampung sekalipun, jika terdapat kendaraan yang mau lewat, anak-anak
tersebut baiknya menghentikan permainannya kemudian menepi untuk memberikan
jalan pada kendaraan tersebut? Biasanya tidak, kendaraan yang akan lewat harus
berhenti dulu, membunyikan klakson, dan anak-anak tersebut akan minggir dengan
menggerutu. Fenomena ini seringkali terjadi, yang ironis adalah saat kejadian
tersebut terdapat orangtuanya, bahkan dari orangtua tidak jarang yang
membiarkan anak-anaknya tetap bermain meskipun tempat bermain tidak tepat, dan
ikut menggerutu dengan mengatakan “apa tidak tahu kalau ini jalan kampung,
kog diklakson anak-anak yang bermain”. Fenomena ini aneh bukan, namun
banyak terjadi dan terjadi pembiaran massa. Di sinilah letak peran orangtua
dalam terjadinya perilaku pelanggaran lalu lintas yang dilakukan anak-anak,
semuanya dimulai sejak dini dan perilaku-perilaku yang awalnya kecil.
Fenomena berikut banyak ditemui saat pagi hari, saaat
orangtua mengantarkan anak-anak berangkat sekolah ataupun saat siang dan sore
hari saat orangtua menjemput anak-anak sepulang sekolah. Orangtua melanggar
lalu lintas dengan tidak berhenti di belakang garis traffic lightsemuanya
seakan-akan berebut di posisi terdepan, saat jalur yang traffic lightnya
berwarna merah sepi mereka akan menerobos, bila tempat tujuan terlalu jauh
berputar balik, mereka akan melawan arah. Orangtua melakukan pelanggaran lalu
lintas ketika bersama dengan anak-anak. Banyak orangtua tidak menduga bahwa
saat mereka melakukan pelanggaran lalu lintas, anak-anak melakukan pengamatan
dan orangtua menjadi model. Terjadilah proses belajar melalui modeling. Pada
proses belajar ini, anak-anak akan memperhatikan atau mengamati orangtua saat
melakukan pelanggaran. Hasil pengamatan ini akan disimpan dalam memori baik
secara visual ataupun secara verbal. Suatu saat, ketika dalam kondisi yang
sama, anak-anak akan menampilkan perilaku pelanggaran lalu lintas, dengan
harapan mendapatkan keuntungan seperti yang didapatkan orangtuanya saat
melakukan pelanggaran lalu lintas. Gambaran yang dapat ditangkap dari pola
berpikir anak-anak adalah, karena ingin cepat sampai, sepi, agar tidak lelah,
maka akan melanggar lalu lintas, seperti yang dilakukan ayah atau ibu
(orangtua). Nah, kalau seperti ini, sudah jelas peran orangtua sebagai penyebab
perilaku pelanggaran lalu lintas yang dilakukan anak-anak.
Tidak semua anak-anak melakukan pelanggaran lalu lintas
karena orangtuanya melakukan pelanggaran, namun kita harus mewaspadi perilaku
pelanggaran yang dilakukan anak-anak karena memodel orangtuanya. Mengapa?
Karena perilaku seperti ini biasanya memiliki kecenderungan akan diteruskan ke
generasi berikutnya (transgenerational). Semoga tulisan ini memberikan
manfaat.